Imamal-Zarnuji menjelaskan metode belajar dalam kitabnya. Ada 13 pasal yang disebutkan olehnya dalam Ta'lîm al-Muta'allim, yaitu: Hakikat ilmu dan keutamaannya. Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji membicarakan perihal kewajiban menuntut ilmu, dan tidak semua ilmu harus dipelajari. Karena yang wajib bagi mereka adalah Ilmul hâl, seperti ilmu Talim Muta'allim - Bab 3 - Memilih Ilmu, Guru, Teman, dan Tabah ‫.فصل‬ Kitab ini saya beri nama Ta'limul Muta'alim Thariqatta'allum. Yang terdiri dari tiga belas pasal. ilmu, mustahil bisa Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu Cuma ringkasan, kemulyaan ilmu yang aku tahu Ia cahaya DownloadFull PDF Package. Translate PDF. Ringkasan kitab ta'limul muta'allim Kitab Ta'lim Muta'allim yang berjudul lengkap "Ta'limul Muta'allim Thoriqut Ta'allum" dimuqaddimah-nya, Syaikh az-Zarnuji menyebutkan latar belakang disusunnya kitab ini adalah kegelisahan beliau mengamati fenomena banyaknya pelajar yang sangat diketahui rajin dalam 0208-2022 daniyada maktabgacha ta'lim . karib dengiz qaroqchilari uzbek tilida kino skachat jumanji 1 o'zbek tilida toliq ajal iskanjasida uzbek tilida aksiz solig'i 2022 fizika oliy o'quv yurtlariga kiruvchilar uchun ko'z pirpirashi baldur's gate: dark alliance ending ingliz tilini o'rganish uchun kino ta'lim sohasidagi davlat siyosati tamoyillari dengiz hukumdori uzbek tilida 40 qism meri Meski menurut peneliti yang lain, Ta'lim al-Muta'allim, hanyalah salah satu dari sekian banyak kitab yang ditulis oleh al-Zarnuji. Seorang orientalis, M. Plessner, misalnya, mengatakan bahwa kitab Ta'lim al-Muta'allim adalah salah satu karya al-Zarnuji yang masih tersisa. Plessner menduga kuat bahwa al-Zarnuji memiliki karya lain Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Download Ta’lim Muta’alim Kitab Ta’limul Muta’allim تعليم المتعلم merupakan salah satu kitab yang cukup populer di kalangan pesantren, bahkan menjadi kitab yang hampir dipastikan selalu menjadi kitab yang wajib ada dan wajib dikaji di pesantren. Selain karena bahasanya yang cukup ringan, kitab yang dikarang oleh Al-Imam Burhanuddin Az-Zarnuji atau lebih sering dikenal dengan sebutan Syekh Zarnuji ini penuh dengan nilai-nilai yang penuh hikmah bagi siapapun yang mempelajari kitab ini, khususnya bagi mereka yang sedang berada dalam fase thalabul ilmi atau mencari ilmu. Berikut ini 13 pasal atau bab yang terkandung dalam kitab Ta’lim Muta’allim Pertama, menerangkan hakikat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya. Kedua, niat dalam mencari ilmu. Ketiga, cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan. Keempat, cara menghormati ilmu dan guru. Kelima, kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur. Download Juga Download Kitab Ihya’ Ulumuddin Keenam, ukuran dan urutannya. Ketujuh, tawakal. Kedelapan, waktu belajar ilmu. Kesembilan, saling mengasihi dan saling menasehati. Kesepuluh, mencari tambahan ilmu pengetahuan. Kesebelas, bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Keduabelas, hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya. Ketigabelas, hal-hal yang mempermudah datangnya rezeki, hal-hal yang menghambat datangnya rezeki, Hal-hal yang dapat memperpanjang dan mengurangi umur. Judul Ta’limul Muta’alim Versi Arab Asli Sinopsis Kitab Yang Mempelajari Akhlak Menuntut Ilmu Penulis Burhan al-Islam al-Zarnuji Format File PDF Download Ta’limul Muta’alim Tentang Kitab Ta’lim Muta’alim Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan salah satu kitab tentang pendidikan yang dikarang oleh seorang ulama bernama Syekh Burhanuddin al-Islam Al-Zarnuji, seorang ulama yang hidup di pertengahan masa Daulah Abbasyiyah. Secara historis, belum ada keterangan yang valid berkenaan kapan beliau dilahirkan, sementara untuk waktu wafatnya, para peneliti berbeda pendapat, ada yang mengatakan syekh al-Zarnuji wafat pada tahun 1195 M, dan ada yang mengatakan tahun 1243 M. Namun yang jelas, Imam al-Zarnuji hidup pada masa-masa keemasan Islam, dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan di masanya, tidak sejalan dengan konidisi akhlak / etika peserta didik Tholibul Ilm, Murid, Siswa. Hal inilah, yang menjadi salah satu faktor utama, beliau menyusun sebuah kitab yang menjelaskan tentang etika-etika seorang murid, siswa, orang yang mencari ilmu, dengan nama Kitab Ta’limul Muta’allim. Demikianlah ulasan tentang Download Ta’lim Muta’alim Navigasi pos Pesantren merupakan sarana para pelajar menimba ilmu pengetahuan secara intensif. Hal ini tampak dari padatnya jadwal pengajian serta ragam kitab yang dipelajari. Namun, dalam tradisi pensantren, ada yang lebih urgen ketimbang ilmu pengetahuan, yakni adab atau etika. Termasuk etika dalam mencari ilmu itu sendiri. Bagi para santri, akhlak lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Sedikitnya sopan santun lebih berharga daripada banyaknya ilmu. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Imam Ibnu al-Mubarak نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ “Kita lebih membutuhkan adab meskipun sedikit dibanding ilmu meskipun banyak” Syekh Syatha Dimyathi al-Bakri, Kifâyah al-Atqiyâ wa Minhâj al-Ashfiyâ, Dar el-Kutub al-Ilmiyah, h. 262. Dalam menggembleng akhlak santri, pesantren memasukkan pelajaran tentang etika dan tata cara menuntut ilmu ke dalam kurikulumnya. Hal ini dilakukan supaya para santri memahami akhlak yang terpuji dan tata cara menuntut ilmu yang benar, supaya ilmu mereka bermanfaat saat mengabdi di masyarakat. Ada beragam kitab yang digunakan dalam pembelajaran akhlak di pesantren. Beberapa yang bisa disebut antara lain al-Akhlâq lil Banîn karya Syekh Umar bin Ahmad Baraja, Adabul Âlim wal Mutaallim karya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Bidâyatul Hidâyah karya Imam al-Ghazali, dan yang sangat terkenal di setiap pesantren yaitu kitab Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum karya Imam al-Zarnûji. Kitab Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum merupakan salah satu kitab yang menghimpun tuntunan belajar. Nama lengkap penyusunnya adalah Burhânuddîn Ibrâhim al-Zarnûji al-Hanafi. Kata al-Zarnûj dinisbatkan kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Oxus, Turki. Dari penisbatannya kepada al-Hanafi di ujung namanya dapat diketahui bahwa beliau bermazhab Hanafi. Mengenai tahun kelahirannya para ulama tarikh masih berbeda pendapat, begitupun dengan tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan Imam al-Zarnûji wafat pada 591 H, namun ada juga yang menyebutkan wafat pada 640 H Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, Beirut al-Maktab al-Islami, cetakan pertama, 1981, halaman 18. Imam al-Zarnûji berguru kepada beberapa ulama besar pada masanya, di antaranya adalah Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakr 573 H, Hammad bin Ibrahim, Fakhruddin al-Kâsyâni, Fakhruddin Qâdhi Khan al-Awz Jundi, dan Ruknuddin al-Farghâni. Para ulama tersebut adalah ahli fiqih sekaligus sastra. Mungkin faktor inilah yang menyebabkan banyaknya nasihat yang dikutip oleh Imam al-Zarnûji berasal dari ulama Hanafiyah, dan banyaknya syair di dalam kitab ini. Latar belakang penulisan kitab ini adalah adalah sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri dalam mukaddimah kitabnya فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang dari ilmu sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah. Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum,halaman 57 Imam al-Zarnuji menjelaskan metode belajar dalam kitabnya. Ada 13 pasal yang disebutkan olehnya dalam Ta’lîm al-Muta’allim, yaitu Hakikat ilmu dan keutamaannya Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji membicarakan perihal kewajiban menuntut ilmu, dan tidak semua ilmu harus dipelajari. Karena yang wajib bagi mereka adalah Ilmul hâl, seperti ilmu iman, ilmu shalat, zakat, dan semacamnya. Setelah itu beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan menuntut ilmu, di antaranya analogi Imam al-Zarnuji akan keutamaan Nabi Adam AS dibanding para malaikat adalah karena ilmu yang dimilikinya. Imam al-Zarnuji juga menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu ada 4. Pertama, fardluain, salah satunya adalah ilmu wudhu dan shalat. Kedua, fardlu kifayah, seperti ilmu cara menguburkan jenazah. Ketiga, haram, seperti mempelajari ilmu ramalan berdasarkan perbintangan. Keempat, jawâz boleh, seperti mempelajari ilmu kedokteran. Niat ketika belajar Imam Zarnuji menyebutkan, bahwa seorang pelajar harus memiliki niat saat menuntut ilmu. Landasan yang digunakan beliau yaitu sabda Nabi tentang niat, “innamal a’mâlu binniyyât”, “Sesungguhnya amal seseorang tergantung pada niatnya.” Ada beberapa niat yang dianjurkan Imam al-Zarnuji ketika menuntut ilmu. Pertama, mencari ridha Allah SWT. Kedua, menghilangkan kebodohan dirinya dan orang lain. Ketiga, menghidupkan agama dan mendirikan Islam. Keempat, mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji juga memberi peringatan supaya seorang pelajar tidak mencari dengan maksud mencari pengaruh supaya orang-orang berpaling kepadanya, begitu juga mencari kedudukan di sisi penguasa, kecuai jika ilmu tersebut digunakan untuk menyeru kebaikan dan mecegah kemungkaran di tengah pemereintah. Memilih ilmu, guru, dan teman, serta keteguhan dalam menuntut ilmu Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji memberi saran bagi para pelajar untuk memilih ilmu, guru, dan teman. Hendaknya bagi seorang pelajar mendahulukan ilmu yang dibutuhkannya sekarang dalam urusan agama ilmul hal, baru kemudian mempelajari ilmu yang berguna baginya pada masa yang akan datang. Dan Imam Zarnuji menyarankan agar mencari guru yang lebih pandai dan lebih sepuhdari dirinya, dan memilih teman yang tekun, wara’, baik tabiatnya, dan tanggap. Menghormati ilmu dan ahlinya Di sini Imam al-Zarnuji menjelaskan bahwa seorang pelajar tidak akan mendapat ilmu melainkan ia menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya. Beliau menyebut etika apa saja yang harus dilakukan seorang pelajar, di antaranya adalah tidak duduk di tempat duduk gurunya, tidak memulai percakapan dengan guru kecuali atas izinnya, tidak banyak berbicara di sisi gurunya, dan lain-lain. Sungguh-sungguh, tekun, dan semangat Imam al-Zarnuji memandang ilmu adalah tujuan yang agung, ia harus dicapai dengan kesungguhan, ketekunan dan semangat yang tinggi. Kesungguhan tidak hanya bergantung pada pelajar saja, namun guru dan orangtua pun harus bersungguh menyiapkan pendidikan anaknya. Beliau banyak memberi saran supaya ilmu itu kuat melekat pada diri seorang antaranya dengan mengulang pelajaran pada setiap permulaan dan akhir malam. Tahap awal, ukuran, dan urutannya Di sini imam al-Zarnuji banyak menyinggung soal urutan tingkat pelajaran yang mesti diajarkan guru kepada murid, dari dasar baru kemudian kepada tingkat yang lebih tinggiSelain itu, Imam al-Zarnuji juga menyatakan bahwa merupakan suatu keharusan bagi pelajar untuk saling menggelar kegiatan seperti mudzâkarah, munâdharah, dan almuthârahah. Imam al-Zarnuji juga mengingatkan kepada pelajar untuk senantiasa bersyukur atas karunia yang dianugerahkan kepada mereka berupa kemampuan untuk menuntut ilmu. Tawakal kepada Allah Tentunya setelah usaha-usaha diatas, seorag pelajar hars berserah diri kepada Allah SWT. Imam al-Zarnuji menganjurkan para pelajar untuk tidak perlu merasa sulit dan menyibukkan hati dalam masalah rezeki. Hal ini senada dengan hadis Nabi SAW, “Barangsiapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT akan menjamin rezekinya.” Masa produktif Masa mencari ilmu ada seumur hidup, sejak dilahirkan hingga masuk ke liang lahat. Menurut Imam al-Zarnuji, waktu terbaik untuk mencari ilmu adalah saat masih muda. Jika seorang pelajar merasa jenuh terhadap satu disiplin ilmu, ia dapat beralih pada disiplin ilmu yang lain. Kasih sayang dan nasihat Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seorang pelajar hendaknya memiliki rasa kasih sayang, bersedia memberi nasihat dan tidak iri hati. Seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dengan orang lain, karena dapat menyia-nyiakan waktu. Beliau juga menyarankan agar mereka selalu positif thinking, tidak berburu sangka kepada orang lain. Mengambil faedah pelajaran Imam al-Zarnuji meletakan metode praktis untuk menambah pengetahuan, di antaranya ialah dengan mempersiapkan alat tulis setiap saat, tidak menyia-nyiakan waktu, bergaul dengan guru dan tamak kepada ilmu, fokus ketika pelajaran, dan taat kepada seorang guru. Bersikap wara’ ketika belajar Imam al-Zarnuji dalam pasal ini memberi wejangan kepada para pelajar untuk menjauhi rasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan dari pasar bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang rusak akhlaknya. Dan hendaknya mereka bergaul bersama orang-orang sholeh, duduk menghadap kiblat, mengamalkan sunnah -sunnah Rasul, memperbanyak sholawat. Penyebab hafal dan lupa Menghafal termasuk ke dalam metode belajar di berbagai lembaga pendidikan. Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, membaca Al-Qur’an. Seadngkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia. Sesuatu yang mendatangkan dan menjauhkan rezeki, serta menambah dan memperpendek umur. Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mengetahui apa saja yang menambah rezeki dan apa saja yang menambah panjang usia dan kesehatan, supayamasa belajarnya dapat diselesaikan dengan baik. Imam al-Zarnuji menyebutkan bahwa perbuatan dosa dan dusta dapat menjadi penghalang datangnya itu, Beliau juga menyatakan bahwa tidur pada waktu Subuh termasuk penghalang rezeki, banyak tidur menyebabkan fakir, termasuk fakir dalam ilmu. Sedangkan bangun di waktu pagi dapat mendatangkan segala kemudahan dan dapat mendatangkan rezeki. Dalam memperkuat pendapatnya, Imam al-Zarnuji terkadang menggunakan hadis dan syair-syair. Banyak sekali syair dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim, hingga ada yang menghimpunnya dalam kitab khusus, yaitu syair Alala. Salah satu bait yang terkenal dalam kitab ini adalah Syair Muhammad bin al-Hasan تعلم فإن العلم زين لأهله وفضل وعنوان لكل المحامد وكن مستفيدا كل يوم زيادة من العلم واسبح في بحور الفوئد Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan dan tanda bagi setiap sesuatu yang dirimu dapat mengambil faedah dari ilmu setiap harinya, dan berenanglah engkau dalam lautan kemanfatan Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, Beiruthalaman 61 Karya Imam al-Zarnuji ini telah dikenal banyak orang baik di Timur maupun di Barat. Banyak para ulama yang memuji kitab Ta’lîm al-Muta’allim, di antaraya adalah al-Allamah al-Kinawi a-Hindi. Beliau mengatakan, “Aku telah membaca kitab ini berulang-ulang, dia adalah kitab yang ringkas, memiliki banyak manfaat, berharga dan berfaedah. Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, Beiruthalaman40 Ta’lîm al-Muta’allim sangat cocok sekali dipelajari oleh santri, kendati demikian, bahasa dalam kitab ini lumayan rumit bagi pelajar pemula, terlebih syair-syair di dalamnya. Terkadang santri baru akan menggunakan kitab Taysîr al-Khalâq atau al-Akhlâq lil Banîn sebelum mempelajari kitab ini. Amien Nurhakim, Mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah I IDENTITAS BUKU A. TERJEMAH TA’LIM MUTA’ALIM viii + 110 hl.; 14,5 x 20,1 cm Cetakan pertama, Ramadhan 1430 / September 2009 Cetakan kedua, Syawal 1433 / September 2012 Disusun oleh Syeikh Az-Zarnuji Penerjemah Abdul Kadir Aljufri Penyunting Husin Abdullah Idrus Hasan Pengatur dan Tata Letak Tim CM Grafika, Surabaya Desain Sampul Tim Grafis Mutiara Ilmu Diterbitkan oleh MUTARA ILMU Surabaya B. PANDUAN BELAJAR BAGI PENUNTUT ILMU viii + 137 hl.; 10,5 x 14,5 cm Cetakan pertama, 1426 H / 2005 M Judul Asli Ta’liim al-Muta’alim Thariiq al-Ta’allum Pengarang Syekh al-Zarnuji Alih Bahasa Abu Shofia & Ibnu Sanusi Editor A. Ma’ruf Ansori Setting & Layout Muh. Salafuddin Al-Qudsy Diterbitkan oleh PUSTAKA AMANI Jakarta Dalam kitab Ta’limul Muta’alim terdiri dari 13 pasal, diantaranya 1. Hakikat Ilmu, Hukum Mencari Ilmu dan Keutamaannya. 2. Niat Dalam Mencari Ilmu. 3. Cara Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Ketekunan. 4. Cara Menghormati Ilmu dan Guru. 5. Kesungguhan Dalam Mencari Ilmu, Beristiqomah dan Cita-Cita Yang Luhur. 9. Saling Mengasihi dan Saling Menasehati. 10. Mencari Tambahan Ilmu Pengetahuan. 11. Bersikap Wara’ Ketika Menuntut Ilmu. 12. Hal-Hal Yang Dapat Menguatkan Hafalan dan Yang Melemahkannya. 13. Hal-Hal Yang Mempermudah Datangnya Rezeki dan Yang Menghambat Datangnya Rezeki, Yang Dapat Memperpanjang dan Mengurangi Umur. II RANGKUMAN PASAL I HAKIKAT ILMU, FIKIH DAN KEUTAMAANNYA Rosululloh SAW bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan.” Kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan tidak untuk segala macam ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu haal ilmu yang menyangkut kewajiban sehari-hari sebagai muslim, seperti ilmu tauhid, akhlak dan fiqih. Sebagaimana diterangkan dalam hadits “Ilmu yang paling utama adalah ilmu haal dan amal yang paling utama adalah menjaga haal prilaku.” Keutamaan ilmu adalah sebagai peratara sarana menuju ketakwaan yang akan menyebabkan seseorang brhak mendapatkan kemuliaan disisi ALLOH SWT dan kebahagiaan yang abadi. Setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tentang segala etika akhlak, baik yang terpuji maupun yang tercala. D. Ilmu Yang Wajib Dipelajari Secara Kifayah dan Ilmu Yang Haram Dipelajari Mempelajari ilmu yang diperlukan pada saat-saat tertentu saja seperti salat jenazah dan dll. hukumnya fardhu di suatu daerah sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut. Mempelajari ilmu nujum meramalkan suatu berdasarkan ilmu perbintangan dan astrologi hukumnya haram, sebab ilmu tersebut berbahya dan tidak bermanfaat, dan lari dari ketentuan dan takdir ALLOH SWT jelas tidak jika sebatas untuk mengetahui arah kiblat dan waktu salat, maka dipebolehkan. Adapun mempelajari ilmu kedokteran hukumnya jawaz diperbolehkan. Ilmu adalah suatu sifat yang dengannya dapat menjadi jelas pengertian suatu hal yang disebut. Ilmu fiqih adalah pengetahuan tentang kelembutan-kelembutan kedalaman ilmu. PASAL II NIAT DALAM MENCARI ILMU A. Pentingnya Niat Blajar Rosululloh SAW bersabda إنما الأعمال بالنيات “ Semua amal itu tergantung pada niatnya.” Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha ALLOH SWT, mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan, mencari kebahagiaan di akhirat menghilangkan kebodohan dirinya, dan orang lain menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. B. Kelezatan dan Hikmah Ilmu Barang siapa yang telah dapat merasakan kelezatan ilmu dan pengamalannya, maka dia tidak akan tertarik dengan harta yang dimiliki orang lain. Para ahli ilmu ulama sebaiknya tidak merendahkan menghinakan dirinya dengan mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya dan menghindari hal-hal yang dapat menghinakanilmu dan ahli ilmu. D. Saran Khusus Buat Pelajar Para pelajar seharusnya mendapatkan kitab wasiat yang ditulis oleh Abu Hanifah untuk Yusuf bin Khalid As-Simti ketika hendak pulang kepada keluarganya. PASAL III MEMILIH ILMU, GURU, TEMAN BELAJAR DAN TEKUN DALAM MENIMBA ILMU A. Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih Para pelajar hendaknya memilih ilmu yang terbaik baginya dan ilmu yang dibutuhkannya dalam urusan agama pada masa sekarang, lalu ilmu yang dibutuhkannya pada masa mendatang. Sebaiknya seorang pelajar memprioritaskan pada ilmu tauhid dan mengenal ALLOH dengan dalil-dalilnya. Para ulama berkata tetaplah kalian pada ilmunya para nabi ilmu agama, dan tinggalkanlah ilmu-ilmu yang baru ilmu debat yang mucul setelah meninggalnya para ulama. B. Cara Memilih Guru Atau Kiai Sebaiknya memilih orang yang lebih alim pandai, yang bersifat wara’ menjaga harga diri, dan yang lebih tua. Para pelajar sebaiknya memilih orang yang tekun belajar, bersifat wara’ dan berwatak istiqomah lurus dan mudah paham tanggap.Hindarilah orang malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah. D. Sabar Dan Tekun Dalam Belajar Seorang pelajar harus berani bertahan dan bersabar dalam belajar kepada seorang guru dan mempelajari sebuah kitab, jangan sampai meninggalkannya sebelum tamat selesai. Tidak berpindah dari satu guru ke guru yang lain dan dari satu ilmu ke ilmu yang lain sebelum benar-benar memahaminya dengan yakin,tidak berpindah dari suatu daerah ke daerah yang lain tampa kecuali bila terpaksa. PASAL IV PENGHORMATAN TERHADAP ILMU DAN ORANG ALIM Pelajar tidak dapat meraih ilmu dan memanfaatkan ilmunya kecuali dengan menghormati ilmu dan ahli ilmu serta menghormati dan mengagungkan gurunya. Salah satu cara menghormati guru ialah tidak berjalan kencang di depannya, tidak duduk ditempatnya, tidak mulai percakapannya kecuali atas izinnya, tidak banyak bicara dihadapan guru, tidak menanyakan sesuatu ketika ia sudah bosan, menjaga waktu dan tidak mengetuk pintu rumah atau kamarnya, tetapi harus menunggu sampai beliau keluar, menghormati anak-anaknya dan orang yang mempunyai hubungan keabat dengannya. Seorang pelajar sebaiknya tidak memegangkitab kecuali dalam keadaan suci dari hadas, tidak menyelonjorkan kaki kearah kitab, hendaknya kitab tafsir diletakan diatas kitab-kitab yang lain dan tidak meletakkan sesuatu diatas kitab, hendaknya menulis pada kitab dengan baik, jelas dan tidak kabur, tidak membuat catatan pinggir yang mengaburkan kitab, kecuali dalam keadaan terpaksa, sebiknya tidak memakai tinta merah dalam menulis kitab karena hal itu kebiasaan para filosof bukan kebiasaan ulama salaf. Termasuk menghormati ilmu adalah menghormati teman dan orang yang pelajar harus saling mengasihi dan menyayangi apalagi kepada guru, supaya ilmunya berpaedah dan diberkati. Hendaknya para pelajar mendengarkan ilmu dan hikmah dengan rasa hormat, sekalipu sudah pernah mendengarkan suatu masalah dan kalimat tersbut seribu kali. E. Jangan Memilih Ilmu Sendiri Seorang pelajar sebaiknya tidak memilih sendiri bidang ilmu yang akan ditekuninya, tetapi harus menyerahkan kepada guru untuk memilihnya. Karena guru lebih tahu mana ilmu yang cocok dengan watak atau kecenderungan muridnya. Seorang pelajar sebaiknya tidak duduk dekat gurunya pada saat belajar kecuali darurat. F. Menghindri Akhlak Tercela Seorang pelajar sebaiknya menghindari perilaku yang tercela. PASAL V KESUNGGUHAN DALAM MENCARI ILMU, BERISTIQOMAH DAN CITA-CITA YANG LUHUR Pera pelajar harus bersungguh-sungguh dan tekun dalam belajar. Firman ALLOH SWT dalam QS. Al-Ankabut 69. والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا “ Dan orang-orang yang berjihad atau bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan-Ku, maka benar-benar aku akan tunjukan mereka kepada jalan-jalan menuju keridhaan-Ku.” B. Kontinuitas dan Mengulang Pelajaran Pelajar harus mengulang-ngulang pelajarannya pada awal malam dan akhir antara Isya dan waktu sahur. Para pelajar tidak boleh terlalu memaksa diri hingga melebihi kekuatannya. Karena akan melemahkan tubuhnya. Para pelajar harus memiliki cita-cita yang luhur dalam berilmu, karena merupakan modal utama untuk mencapai sesuatu. E. Sebab-sebab Rasa Malas Rasa malas ditimbulkan oleh dahak dan karena kebanyakan kadar air. Cara menanggulanginya dengan mengurangi makan, bersiwak dan makan roti kering. PASAL VI LANGAH AWAL, UKURAN DAN TATA CARA BELAJAR A. Tahap Awal dan Ukuran Belajar Dalam Hadis Nabi ما من شيئ بدئ يوم الأربعاء إلا وقد تم “Tidak ada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan menjadi sempurna.”Karena hari Rabu adalah hari dimana cahaya Nur diciptakan. Ukuran dalam belajar bagi orang yang baru memulai, dalam keterangan dikatakan bahwa “Guru-guru kami berpendapat bahwa sebaiknya ukuran pelajaran bagi tingkat dasar adalah sesuatu yang kira-kira dapat dikuasai dengan mengulanginya dua kali, kemudian setiap hari ditabahkan kalimat demi kalimat.” B. Tingkat Pelajaran dan Usaha Memahaminya Dalam memulai pelajaran, sebaiknya diawali dengan sesuatu yang mudah dipahami kemudian membuat catatan sendiri mengenai pelajaran yang dipahaminya dan disertai dengan berdoa kepada ALLOH SWT. Para pelajar harus saling mengingatkan pelajaran mudzakarah,berdiskusi munazharah, dan memecahkan masalah bersama mutharahah dengan penuh kesadaran, tenang dan penuh penghayatan, hindarilah keonaran. D. Berpikir dan Berbicara Tepat Para pelajar harus menggunakan seluruh waktunya untuk merenungkan kedalaman ilmu dan membiasakannya. Sebelum berbicara, santri haruslah berpikir dulu, agar apa yang diucapkan benar. E. Pembiayaan Untuk Ilmu dan Bersyukur Barang siapa berharta banyak, maka sebaik-baik harta yang dimiliki orang soleh, ialah harta yang dihabiskan untuk menutut ilmu. Para pelajar harus senantasa bersyukur kepada ALLOH dengan ungkapan lisan, hati, tindakan anggota badan dan mendermakan hartanya serta berpandang bahwa pemahaman, pengetahun, dan pertolongan itu semuanya dating dari ALLOH SWT. Barang siapa memiliki harta kekayaan, maka janganlah kikir. Rosululloh SAW. Bersabda أي دواء أدوأ من البخل “Adakah penyakit yang lebih parah daripada kekikiran.” Para santri harus rajin membeli kitab, dan menyuruh oraang lain menuliskan kitab, karena hal ini dapat membantu mempermudah mengaji dan belajar ilmu fiqih. G. Belajar Keterampilan dan Mengukur Kemampuan Para pelajar pada masa lalu lebih dahulu mempelajari cara bekerja kemudian mencariilmu, kemudian mereka tidak tamak mengharap harta orang lain. Para pelajar seharusnya tidak berharap kecuali kepada tidak takut kecuali kepada-Nya. Para pelajar sebaiknya mempelajari ulang pelajaran yang lalu dengan cara sebagai berikut ü Pelajaran yang lalu kemarin lima kali. ü Pelajaran dua hari yang lalu empat kali. ü Pelajaran tiga hari yang lalu tiga kali. ü Pelajaran empat hari yang lalu dua kali. ü Pelajaran Lima hari yang lalu satu kali. Para pelajar harus membiasakan membaca pelajaran dengan penuh usah memaksakan diri, supaya tidak cepat bosan. PASAL VII BERTAWAKKAL A. Rezeki Dan Urusan Dunia Para pelajar diharuskan bertawakkal berserah diri kepada ALLOH di dalam menuntut ilmu. Ia tidak perlu merasa susah karena masalah rezeki dan hatinya jangan selalu disibukkan dengan urusan tersebut. Orang yang berakal tidak akan gundah memikirkan urusan dunia, karena kegundahan dan kesedihan tidak akan dapat meghindarkan musibah dan tidak akan memberikan manfaat. Seorang pelajar harus sanggup menanggung segala kesulitan dan keprihatinan pada saat merantau mencari ilmu. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Musa as. Saat bepergian mencari ilmu dan ucapan ini tidak pernah terdengar darinya dalam masalah selain bepergian mencari ilmu. “Sungguh benar-benar aku telah menemui kesulitan dalam perjalanan ini.” C. Menggunakan Seluruh Waktu Buat Ilmu Para pelajar hendaknya tidak memanfaatkan waktu dengan sesuatu apapun kecuali hanyaa untuk ilmu. Imam Muhammad berkata “Sesungguhnya pekerjaan kami menuntut ilmu ini sejak dari buaian hingga liang kubur. Seseorang yang meninggalkan ilmu kami ilmu fiqih sesaat saja, maka dia akan tertinggal sepanjang hidupnya.” PASAL VIII MASA BELAJAR Dikatakan bahwa وقت التعلم من المهد إلى اللحد “Masa belajar adalah semenjak dalam buaian hingga masuk liang lahat.” Masa terbaik untuk belajar adalah ketika muda. Waktu paling baik untuk belajar yaitu saat-saat menjelang subuh dan waktu antara magrib dan isya. Yang terbaik adalah menghabiskan seluruh waktu untuk belajar. Apabila merasa jenuh menghadapi satu ilmu untuk dipelajari, maka beralihlah kepada ilmu yang lain. PASAL IX KASIH SAYANG DAN NASEHAT Sebagai ahli ilmu hendaklah memiliki kasih sayang, bersedia memberi nasehat tanpa disertai rasa hasud dengki, karena rasa hasud tidak ada manfaatnya. Para pelajar sebaiknya tidak melibatkan diri dalam permusuhan dengan seseorang, karena akan menyia-nyiakan waktu juga berakibat membuka aib. Berusahalah menahan diri dan bersabar dalam menghadapi orang-orang dungu. Nabi Isa putra Maryam berkata “Betahanlah menghadapi ejekan orang yang bodoh satu kali, niscaya kamu akan beruntung sepuluh kali.” C. Tidak Berprasangka Buruk Jauhilah berprasangka buruk kepada sesama orang mukmin, karena hal itu sumber permusuhan dan tidak dihalalkan. Rosululloh SAW bersabda ظنوا بالمؤمنين خيرا “Berprasangka baiklah terhadap orang mukmin.” PASAL X MEGAMBIL PELAJARAN A. Memanfaatkan Waktu Belajar Mengambil pelajaran istifadah bagi pelajar haruslah dilakukan disetiap saat hingga memperoleh kemuliaan, dengan cara selalu menyediakan alat tulis untuk mencatat segala pengetahuan yang baru didapatkan. Sebaikhya maanfaatkanlah setiap waktu dan jangan sia-siakan, lebih-lebih pada malam hari dan pada saat sepi. B. Mengambil Pelajaran Dari Orang Yang Lebih Tua Seorang pelajar hendaknya mau mengambil pelajaran dari orang yang lebih tua dan tidak mengabaikan mereka. C. Prihatain dan Rendah Di Mata Manusia Suatu keharusan bagi pelajar untuk menanggung derita selama menuntut ilmu. Bercumbu rayu itu terlarang kecuali dalam rangka menuntut ilmu. Karena merupakan sutu keharusan bagi para pelajar untuk bercumbu rayu mempertajam ilmu dengan guru, teman dan yang lain untuk mengambil pelajaran dari mereka. PASAL XI WARA’ PADA MASA BELAJAR Rosululloh SAW bersabda من لم يتورع فى تعلمه ابتلاه الله تعالى بأحد ثلاثة أشياء إما أن يميته فى شبابه، أو يوقعه فى الرساتيق، أو يبتليه بخدمة السلطان “Barang siapa tidak berlaku wara’ ketika belajar ilmu, maka dia akan diuji oleh ALLOH dengan salah satu dari tiga perkara Adakalanya ia dimatikan ketika muda, ditempatkan bersama orang-orang bodoh, atau diuji menjadi pelayan para penguasa.” Diantara perbuatan wara’ yaitu menjauhkan diri dari golongan yang berbuat kerusakan, maksiat dan penganggur, menjauhkan dari perut kenyang, banyak tidur dan banyak bicara yang tidak ada gunanya. Hendaknya menjauhi makanan pasar, karena dikhawatirkan najis dan kotor, dapat menjauhkan diri dari ingat kepada ALLOH dan lebih ingat kepada kelalaian. Seorang pelajar hendaknya menghadap kiblat ketika belajar, selalu mengerjakan sunnah Nabi SAW, mengikuti ajaran para pendukung kebaikan, dan menghindari ajaran orang-orang yang berbuat lalim. C. Berpedoman Pada Moral dan Sunnah Seorang pelajar hendaknya tidak mengabaikan disiplin moral dan sunnah. Barang siapa yang meninggalkan disiplin moral, maka akan terhalang dari yang sunnah dan barang siapa yang mengabaikan yang sunnah maka ia terhalang dari yang wajib, sehingga ia terhalang pula dari akhirat. Hendaknya memperbanyak melakukan shalat sebagaimana salatnya orang-orang yang khusyu, karena hal ini sangat menunjang kesuksesan belajar. Seorang pelajar harus selalu membawa buku dalam keadaan bagaimanapun, agar bisa menelaahnya. Dikatakan من لم يكن الدفتر فى كمه لم تثبت الحكمة فى قلبه “Barang siapa yang tidak ada buku dalam sakunya, maka ia tak menyimpan hikmah dalam hatinya.” PASAL XII SEBAB-SEBAB HAPAL DAN LUPA Hal-hal yang berperan menujang hapalan adalah kesungguhan, terus menerus, sedikit makan, membaca Al-Quran dan shalat dimalam hari. Membaca Al-Quran dengan melihat tidak dengan hapalan adalah lebih utama. Sebagaimana sabda Nabi SAW أعظم أعمال أمتى قراءة القرآن نظرا “Ibadah yang paling utama dari umatku adalah membaca Al-Quran dengan melihat.” Cara lain untuk menguatkan hapalan yaitu ketika akan mengaji kitab membaca doa. Kemudian perbanyaklah membaca solawat kepada Nabi SAW. Karena solawat adalah zikir untuk seluruh alam. Bersiwak, mnium madu, makan kandar hanya ada di Turky yang dicampur dengan gula dan makan anggur merah kering 21 biji setiap hari ketika merasa lapar. Yang dapat menyebabkan lupa antara lain Banyak berbuat maksiat, banyak dosa, khawatir dan disibukkan oleh urusan dunia. Beberapa hal yang menyebabkan lupa antara lain, makan ketumbar, melihat salib, membaca tulisan pada nisan, berjalan diantara iringan-iringan unta, membuang ketombe yang masih hidup ke tanah, dan berbekam pada tengkuk. PASAL XIII HAL-HAL YANG MENDATANGKAN DAN YANG MENJAUHKAN REZEKI’ YANG MENAMBAH DAN MEMPERPANJANG UMUR A. Yang Menjauhkan Rezeki Rosululloh SAW bersabda “Tidak dapat menolak takdir kecuali doa. Dan tidak dapat menambah usia kecuali berbuat baik. Maka sesungguhya orang laki-laki bisa terhalang rezekinya karena dosa yang diperbuatnya.” Hadis ini menunjukan bahwa perbuatan dosa itu dapat menyebabkan terhalangnya rezeki, khususnya dosa akibat berdusta. Tidur di waktu subuh, banyak tidur menyebabkan fakir, termasuk fakir dalam ilmu. Tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan dalam keadaan junub, makan ketika junub, membiarkan makanan yang terjatuh, membakar kulit bawang merah dan putih, menyapu lantai rumah dengan kain, menyapu rumah pada malam hari, membiarkan sampah didalam rumah, berjalan didepan orang tua, memanggil kedua orang tua dengan namanya, membersihkan makanan yang tersisa di sela-sela gigi dengan benda kasar, membersihkan tangan dengan lumpur, tanah atau debu, duduk diambang pintu, bersandar pada salah satu daun pintu, wudhu di tempat istirahat, menjahit baju yang sedang dikenakan dipakai, menyela wajah dengan baju, membiarkan sarang laba-laba didalam rumah, mengabaikan salat, cepat-cepat keluar dari mesjid setelah salat subuh, terlalu pagi pergi ke pasar, membeli roti dari orang fakir yang mengemis, mendoakan jelek pada anak, tidak menutup bejana, dan memadamkan lampu dengan meniup, menulis dengan pena yang rusak, menyisir rambut dengan sisir yang rusak, tidak mendoakan baik kepada kedua orang tua, mengenakan surban dengan duduk, mengenakan celana dengan berdiri, kikir, terlalu hemat, berlebih-libihan, malas, menunda-nunda dan menyepelekan segala urusan. B. Yang Mendatangkan Rezeki Rosululloh SAW bersabda “Memohonlah kalian akan turunnya rezeki dengan bersedekah.” Bangun di waktu pagi dapat mendatangkan segala kemudahan dan dapat menambah nikmat, terutama rezeki. Menulis dengan baik, berwajah ramah dan berkata baik akan menambah banyak rezeki. Sebab-sebab yang kuat dan luhur agar mudah mendapatkan rezeki adalah menegakkan salat dengan penuh hormat, khusyu’ dengan menyempurnakan rukun, wajib, sunat, dan disiplin moral adab solat dhuha, dinjurkan pula membaca surat Al-Waqi’ah terutama pada malam hari di saat orang tidur, membaca surat Al-Mulk, Al-Muzammil, Al-Lail dan Al-Insyirah. Sebab lain yang dapat mempermudah datang rezeki adalah datang ke masjid sebelum azan, selalu suci dari hadas, salat sunat sebelum subuh, salat witir di rumah, tidak memperbincangkan masalah dunia setelah salat witir, tidak sering bergaul dengan wanita kecuali ketika perlu, tidak membual untuk agama dan dunianya. C. Yang Memperpanjang Umur Yang dapat meyebabkan umur pajang, yaitu takwa, tidak menyakiti, hormat kepada orang yang tua dan menyambung kekerabatan silaturahmi. Hendaklah tidak menebang pepohonan yang hidup kecuali karena terpaksa, berwudhu dengan sempurna, salat dengan penuh penghormatan, melakukan haji Qiran, dan menjaga kesehatan. III ANALISIS Dari ke tiga belas pasal diatas ada diantaranya yang berkaitan dengan etika, yakni 1. Pasal ke II, Niat dalam mencari Ilmu. 2. Pasal ke III, Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan. 3. Pasal ke IV, Cara Menghormati ilmu dan guru. 4. Pasal ke V, Kesungguhan dalam mencari ilmu, beristikomah dan cita-cita yang luhur. 5. Pasal ke VI, Ukuran dan urutannya. 6. Pasal ke VII, Tawakal. 7. Pasal ke VIII, Waktu belajar ilmu. 8. Pasal ke IX, Saling mengasihi dan saling menasehati. 9. Pasal ke X, Mencari tambahan ilmu pengetahuan. 10. Pasal ke XI, Bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Dari pasal-pasal ini khusunya berkaitan dengan etika seorang pelajar. Adapun pembahasan etika seorang guru terdapat di pasal II dalam pembahasan PANTANGAN AHLI ILMU yang isinya sebagai berikut “Para ahli ilmu sebaiknya tidak merendahkan menghinakan dirinya dengan mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya dan menghindari hal-hal yang dapat menghinakan ilmu dan ahli ilmu.” IV KESIMPULAN Buku Ta’limul Muta’allim berisi 13 pasal yang didalamnya memuat tentang panduan, etika dan tata cara bagi para pelajar dalam menuntut ilmu, yakni mulai proses awal sebelum menuntut ilmu, selama masa belajar, dan cara yang harus ditempuh oleh pelajar untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Metode adalah proses yang sistematis serta terbayang untuk memenuhi sesuatu yang diinginkan. Sedangkan, Metodologi yaitu semua pendidik, pengajar, pelatih atau pembimbing wajib mempelajari ilmu ini dan mempraktekan alur pembelajaran kepada siswa, sehingga pendidik dapat mempelajari dan menerapkan metodologi pembelajaran. Belajar adalah cara untuk mencapai kapasitas ilmu, perubahan tingkah laku atau ulasan dari pengalaman. Tata tertib adalah peraturan yang wajib ditaati oleh masyarakat sekolah. Dalam kitab Ta'lim Muta'allim karya Imam al-Janurzi, terdapat beberapa metodologi belajar dan tata tertibnya, sebagai berikut waktu belajarTerdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin waktu tepat memulai belajar hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah hadist sebagai dasarnya, dan mata pelajaranDalam menuntut ilmu kita wajib untuk memperhatikan ilmu yang ingin kita pelajari dan memilih ilmu yang paling baik serta cocok dengan diri kita, dari segi kebutuhan untuk kedepannya. Menurut kitab Ta'lim Muta'allim, ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, sehingga kita dapat mengenal sifat-sifat Allah berlandaskan dalil asli, walaupun oleh ulama terdahulu menyatakan sah bahwa orang yang beriman taklid dinyatakan, namun tetap dosa, karena menampakkan serta tidak mencari dalil sebagai penguat beberapa cara dalam memilih mata pelajaran atau ilmu pada Kitab Ta'lim Muta'allim karya Syeikh Burhanuddin Az-Zarnuji, yaitu ketika memilih ilmu, sepatutnya mengutamakan ilmu yang hukum mempelajarinya Fardu 'Ain, di sebut ilmu hal ilmu mentauhidkan Allahh SWT, ilmu cara ibadah kepada Allah SWT dan ilmu Qolbu kelompok ilmu. Ketiga ilmu di atas dapat dikenal dengan Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Akhlak/Qalbu. Demikian itu, ilmu yang wajib didahulukan dan yang dimaksud dalam hadits Skala prioritas pelajaranDalam menentukan skala prioritas dapat ditentukan dengan melihat kualitas dan kuantitas pelajarnya, karena keduanya saling terikat. Proses pembelajaran yang berkualitas ada pada materi, metode yang inovatif, sarana prasarana, bantuan administrasi dan sumber daya lainnya supaya terciptanya keadaan belajar yang mendukung. Sedangkan kuantitas berhubungan dengan jumlah peserta didik. Sama dengan jika kamu menghasilkan sesuatu yang berkualitas maka harus di dukung dengan kuantitasnya, dan sebaliknya. Mengenai kualitas dan kuantitas pelajar terdapat sebuah ungkapan dalam Kitab Ta'lim Muta'allim, berikut pelajar"Sebaiknya dimulai dengan pelajaran-pelajaran yang dengan mudah telah bisa di pahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili berkata; "Menurut pribadi yang benar dalam masalah adalah seperti yang telah diterangkan oleh para guru kita. Yaitu untuk murid yang baru, mereka pilihkan kitab-kitab yang ringkas atau kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah di pahami dan di hafal, serta tidak membosankan lagi pula banyak terpraktekan." pelajar"Mengenai ukuran berapa panjang yang baru saja dikaji, menurut keterangan Abu Hanifah adalah bahwasannya Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zanji berkata gur kami berkata "Sebaiknya bagi orang yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu dihafalkan dengan paham, setelah diajarakan dua kali berulang. Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga setelah banyak panjang pun masih bisa menghafal dengan paham pula setelah di ulang dua kali. Demiakanlah lambat laun setapak demi setapak." catatanTerdapat ungkapan yang ada, "Sebaiknya seorang murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran yang sudah di pahami hafalannya, kemudian sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan bermanfaat sekali. Jangan sampai menulis apa saja yang ia sendiri tidak tahu maksudnya, karena hal ini akan menumpulkan otak dan waktupun hilang dengan sia-sia belaka."Dengan demikian, membuat catatan memiliki banyak manfaat, yaitu mengasah daya ingat, mengembangkan otak, teratur, tepat waktu, dan mencapai kesuksesan merupakan wujud permohonan manusia pada setiap waktu atau cara manusia berinteraksi dengan Tuhan-Nya. Terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Hendaknya pula, dengan sungguh-sungguh memanjatkan do'a kepada Allah dan meratap serta meronta. Allah pasti mengabulkan do'a yang di mohonkan dan tidak mengabaikan orang yang mengharapkan. Sya'ir Imrak Al-Qadli Al-Khalil Asy-Syajarzi dibawakan kepada kami oleh guru kami Syaikh Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail As-Shaffar, sebagai berikutAbdilah Ilmu, bagaikan anda seorang abdiPelajari selalu, dengan berbuat sopan terpujiyang telah kau hafal, ulangi lagi berkali-kaliLalu tambatkan dengan temali kuat sekaliLalu catatlah, agar kau bisa mengulangi selamanya ku bisa mempelajariJikalau engkau, telah percaya tak kan lupaIlmu yang baru, sesudah itu masuki segeraMengulang-ulang, ilmu yang dulu, jangan terlalaiDan bersungguhan agar yang ini kan mereka, agar ilmumu hidup menjauh, dari siap berakal majuBila ilmu, kau sembunyikan jadi emmbekukamu akan kenal, jadi si tolol yang bodoh dunguApi neraka kan membelenggumu nanti kiamatSiksa yang pedihpun menimpamu munadharoh, dan mutharohahDalam kitab Ta'lim Muta'allim di jelaskan bahwa, sebagai pelajar kita wajib melakukan Mudzakaroh yiatu majelis saling mengingatkan, Munadharoh yaitu majelis saling mengadu pandangan, dan Mutharohah yaitu diskusi atau musyawarah. Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan, kalem, dan penghayatan serta menghilangkan hal yang beresiko Muhammad bin Yahya mengajukan suatu kegagalan, maka beliau sendiri belum menemukan pemecahannya, ia mengatakan "Pertanyaan anda saya catat dahulu untuk kucari pemecahaannya. Dikatakan "Sesaat mutharohah dilakukan, lebih bagus mengulang pelajaran sebulan." Sudah tentu harus dilakukan dengan orang insaf dan bertabiat mudzakaroh bersama orang yang hanya mencari kemanangan dalam berbicara atau bertabiat tidak jujur, suka merampas, akhlak. Syi'ir yang diberikan oleh Khalil bin Ahmad, telah banyak membawa ilmuTerdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Pelajaran hendaknya membiasakan diri sepanjang waktu untuk mengangan-angan dan memikirkan. Melihat kenyataan tersebut, kita mengetahui bahwa menuntut ilmu dan fiqh dapat pula dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari uang. Abu Hafsh Al-Kabir sendiri bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannnya sendiri. Dengan demikian, seorang pelajar harus mencarikan nafkah keluarga dan setengah tanggungannya, sekiranya ditengah-tengah keasyikan itu mempelajari sendiri pelajarannya dengan semangat dan segiat dalam belajarBiaya dalam belajar atau pembiayaan pendidikan merupakan materi yang relevan dan tidak dapat terhambat dalam pengelolaan proses pembelajaran di sekolah. Dalam Kitab Ta'lim Muta'allim terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Orang kaya jangan kikir, dan hendaklah mohon perlindungan kepada Allah agar tidak kikir. Nabi saw bersabda "Manakah penyakit yang lebih keras daripada kikir? Bapaknya Syaikhul Imam Agung Syamsul Aimmah Al-Halwaniy adalah seorang fakir penjual kue halwak. Bapak ini menghadiahkan beberapa biji tersebut kepada fuqaha, dan katanya "Kumohon tuan mendo'akan putraku." Demikianlah, sehingga atas berkah dermawan, I'tikad baik, suka rela dan merontanya itu, sang putra mendapat kesuksesan cita-citanya. Dengan harta yang dimiliki, hendaklah suka membeli kitab dan mengaji menulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan bertafaqquh. Muhammad Ibnul Hasan adalah seorang yang hartawan besar yang mempunyai 300 orang pegawai yang mengurusi kekayaannya, toh suka membelanjakan sekalian kekayaannya demi ilmu, sehingga pakaiannya sendiripun tiada yang bagus. Dalam pada itu, Abu Yusuf menghaturkan sepotong pakaian yang masih bagus untuknya, namun tidak berkenan menerimanya dan malah ujarnya Untukmulah harta dunia, dan untukku harta akherat saja. "Yang demikian itu sekalipun menerima hadiah sendiri hukumnya sunnah, barangkali memandangnya dapat mencemarkan dirinya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda "Orang yang mencemarkan dirinya sendiri, tidaklah termasuk ke dalam golongan kaum muslimin." Suatu hikayat, bahwa fakrul Islam Al-Arsyabandiy makan kulit-kulit semangka yang dibuang orang, dimana ia kumpulkan sendiri dari tempat-tempat yang sepi. Pada suatu ketika ada seorang jariyah yang mengetahuinya, lalu melaporkan hal itu kepada tuannya. Maka setelah disediakan jamuan makan, Fakhrul Islam pun dimohon kehadirannya. Namun demi menjaga dirinya agar tidak tercemar, beliau tidak berkenan menghadiri jamuan ungkapan terimakasih atas perasaan damai, bahagia, aman, dan lain sebagainya. Dalam Kitab Ta'lim Muta'allim terdapat sebuah ungkapan "Demikianlah, pelajar harus menyatakan syukurnya dengan lisan, hati, badan dan juga hartanya. Memohon hidayahnya dengan berdo'a dan meronta, karena hanya Dialah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang Haq yaitu Ahli Sunah Wal Jama'ah selalu mencari kebenaran dari Allah yang maha benar, petunjuk, penerang yang memelihara, Maka Allah pun menganugerahi mereka hidayah dan membimbing dari jalan yang sesat. Lain halnya dengan ahli sesat, dimana ia membanggakan pendapat dan akal sendiri, mereka mencari kebenaran berdasar akal semata, yaitu suatu makhluk yang Saw bersabda "Barangsiapa mengetahui dirinya sendiri, maka dia mengetahui Tuhannya. "Artinya, siapa tahu kelemahan dirinya, maka akan tahulah kebesaran kekuasaan Allah. Karena orang itu jangan berpegang dengan diri dan akal sendiri, tapi haruslah bertawakal kepada Allah, dan kepadaNya pula ia mencari kebenaran. Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka akan dicukupinya dan di bimbing ke jalan yang lurus." dan Tama'Loba dan Tama' atau rakus sangat terkait dengan kesukaan orang terhadap harta. Kesukaan harta telah merancang orang menjadi sibuk tidak ada habisnya memburu dan menimbun harta, sehingga yang ada dalam benaknya hanyalah harta. Dalam Kitab Ta'lim Muta'allim terdapat sebuah ungkapan "Demikianlah, sehingga para pelajar jangan sampai tama' mengharapkan harta orang lain. Ia hendaknya memiliki Himmah yang luhur. Nabi saw bersabda "Hindarilah tama' karena dengan tama' berarti kemiskinan telah menjadi". Tapi tuan juga jangan kikir, sukalah membelanjakan hartanya untuk keperluan diri sendiri dan kepentingan orang lain." Ta'alaArti dari Lillahi Ta'ala adalah karena Allah Ta'ala disebut juga dengan ikhlas yaitu melakukan segala sesuatu hanya karena mengharapkan ridho siapa takut kepada makhluk lalu mendurhakai Allah, maka telah takut kepada selain Allah. tetapi sebaliknya jika ia telah takut kepada makhluk tetapi telah taat kepada Allah dan berjalan pada batas syareat, maka tidak akan bisa dianggap takut kepada selain Allah. Ia masih dinilai takut kepada Allah. Begitu pula dalam masalah harapan kemampuan diriKemampuan diri atau potensi diri yang dimiliki seseorang yang belum tercapai atau telah tercapai, namun belum terlihat secara maksimal Dalam Kitab Ta'lim Muta'allim terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Hendaknya yang lebih efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran menghafalMetode menghafal adalah suatu cara yang dipakai oleh para guru dengan mengajak para siswanya akan menghafalkan suatu kata atau Kitab Ta'lim Muta'allim terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi "Hendaknya yang lebih efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya PENGANTAR Kitab TA’LIM MUTA’ALIM THARIQAT TA’LIM, yang disusun dan di karang oleh Syekh Az-Zarnuji, yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Noor Aufa Shiddiq Al-Qudsy denga judul buku PEDOMAN BELAJAR BAGI PELAJAR DAN SANTRI, merupakan kitab wajib di ajarkan di pondok pesantren berbasis salafi dan modern, dan merupakan kitab dan acuan sekaligus bimbingan bagi seorang penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, sebagaimana kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist sebagai pedoman bagi umat islam. Dalam buku/kitab ini terdapat banyak sekali petunjuk – petunjuk bagi seorang penuntut ilmu, seperti halnya memilih guru dan teman yang akan dijadikan seorang guru dan teman untuk berdiskusi dan mencari solusi dalam permasalahan yang ada dalam masyarakat, cara memuliakan ilmu dan shohibul ilmi dan masih banyak hal – hal yang berhubungan tentang hak dan kewajiban penuntut ilmu. Sebagaimana syair di bawah ini tentang bagaimana mencari seorang guru, Beliau mengatakan لا تصحب الكسلان فى حالاته كم صالح بفساد اخر يفسد Yang artinya “Janganlah engkau bergaul dengan seorang yang pemalas, banyak orang yang baik lantaran bergaul dengan orang yang rusak tingkah lakunya, akhirnya ia menjadi rusak.” DAFTAR ISI Judul PENGANTAR ………………………………………………………………………………………………….. i DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………. ii RESUME KITAB TA`LIMUL MUTA`ALIM ………………………………………………………… 1 PENUTUP ……………………………………………………………………………………………………….. 22 RESUME KITAB TA`LIM MUTA`ALIM 1. PENGERTIAN ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA. A. Kewajiban Belajar Rasulullah saw bersabda “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”. Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, “Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam. B. Keutamaan Ilmu Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan. Ilmu itu sangat penting karena itu sebagai perantara sarana untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.” Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh. C. Belajar Ilmu Akhlaq Setiap orang islam juga wajib mengetahui/mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah diri, congkak, menjaga diri dari keburukan, israf berlebihan, bakhil terlalu hemat dan sebagainya. Sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu orang islam wajib mengetahuinya. D. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram dipelajari. Dikatakan bahwa mengetahui/mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu ain itu ibarat makanan yang di butuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu. Sedangkan mempelajari ilmu nujum itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka, karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari taqdir Tuhan. Boleh mempelajari ilmu nujum ilmu falaq untuk mengetahui arah kiblat, dan waktu-waktu shalat. Boleh pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung dan Nabi juga pernah berobat. E. Definisi Ilmu. Ilmu ditafsiri dengan Sifat yang dimiliki seseorang, maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya. Ujar Abu Hanifah Ilmu itu hanya untuk diamalkannya, sedang mengamalkan di sini berarti meninggalkan orientasi demi akhirat. 2. NIAT DI WAKTU BELAJAR A. Niat Belajar Wajib berniat waktu belajar. Sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal, sebagaimana sabda nabi saw Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu terserah niatnya” Hadits shahih. Dari beliau pula diriwayatkan sebuah hadits ”Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia namun karena bagus niatnya maka menjadi bagian amal akhirat. Adapula amal perbuatan yang terlihat amal akhirat lalu menjadi amal dunia yang karena buruk niat.” B. Niatan Baik dan Buruk. Di waktu belajar hendaklah berniat mencari Ridha Allah swt. Kebahagian akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama dan melanggengkan islam sebab kelanggengan islam itu harus diwujudkan dengan ilmu. Dengan belajar pula, hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasai-penguasa lain. C. Kelezatan dan Hikmah Ilmu. Siapa saja telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal, maka semakin kecillah kegemarannya akan harta benda dunia. Penuntut ilmu hendaknya memperhatikan apa yang tersebut diatas. Ia telah mengatasi kepayahan yang cukup banyak, maka jangan sampai ilmu yang telah ia peroleh itu digunakan sarana bendahara duniawi yang hina, sedikit nilainya dan segera hancur ini. D. Pantangan Ahli ilmu Orang berilmu itu hendaklah jangan membuat dirinya sendiri menjadi hina lantaran tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, jangan sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan ilmu dan ahli ilmu. Ia supaya berbuat tawadu’ sikap tengah-tengah antara sombong dan kecil hati, berbuat iffah, yang keterangan lebih jauhya bisa kita dapati dalam kitab akhlaq. E. Saran Khusus Buat pelajar Sebaiknya pelajar bisa mendapatkan buku wasiat tulisan Abu Hanifah yang tadinya untuk Yusuf Bin Khalid As-Simty waktu pulang kembali ketengah-tengah keluarganya. Dan buku ini bisa didapatkan oleh yang mau mencarinya. 3. MEMILIH ILMU, GURU,TEMANDAN KETABAHAN BERILMU A. Syarat-syarat Ilmu Yang Dipilih. Hendaknya lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya. Karena orang yang imannya hanya taklid sekalipun menurut pendapat kita sudah syah, adalah tetap berdosa karena ia tidak mau beristidlal dalam masalah ini. Hendaknya pula memiluh ilmi-ilmu yang kuna, bukan yang baru lahir. Banyak ulama berkata “Tekunilah ilmu kuna, bukan yang baru saja ada.” Awas, jangan sampai terkena pengaruh perbantahan yang tumbuh subur setelah habisnya ualama besar, sebab menjurus untuk menjauhkan pelajar dari mengenali fiqh, hanya menghabiskan usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan. B. Syarat-syarat Guru Yang dipilih Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro’ dan juga lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah setelah lebih dahulu memikir dan mempertimbangkan lebih lanjut, maka menentukan pilihannya kepada tuan Hammad Bin Abu Sulaiman. C. Bermusyawarah Seharusnyapelajar suka bermusyawarah dalam segala hal yang dihadapi. demikian, karena Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw. Agar memusyawarahkan segala halnya. Toh tiada orang lain yang lebih pintar dari beliau, dan masih diperintahkan musyawarah, hingga urusan-urusan rumah tangga beliau sendiri. Menuntut ilmu adalah perkara paling mulya, tetapi juga paling sulit. Karena itulah, musyawarah disi lebih penting dan diharuskan pelaksanaannya. D. Sabar dan Tabah Dalam Belajar Ketahuilah! Sabar dan tabah itu pangkal keutamaan dalam segala hal, tetapi jarang yang bisa melakukan. Sebagaimana syaiir dikatakan Segala sesuatau, maunya tinggi yang di tuju Tapi jarang, hati tabah di emban orang Ada dikatakan “Keberanian ialah sabar sejenak.” Maka sebaiknya pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam mempelajari suatu, jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari, dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah kelain daerah kecuali karena terpaksa. Juga berhati sabar dalam menghadapi cobaan dan bencana. Ada dikatakan “Gudang simpanan cita, terletak pada banyaknya bencana.” E. Memilih Teman Tentang memilih teman, hendaklah memilih yang tekun, waro, bertabiat jujur serta mudah memahami masalah. Menyingkiri orang pemalas, penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah. Syiir dikatakan Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu siapapun dia, mesti berwataq seperti temannya. Bila kawanya durhaka, singkirilah dia serta bagus budinya, rangkullah dia, berbahagia! Disyi’irkan buatku Jangan kau temani sipemalas, hindari segala halnya, banyak orang shaleh menjadi kandas, sebab rerusuh sandarannya Menjalar tolol kepada cendikia, amat cepat terlalu laksana api bara, ia padam di atas abu Ada dikatakan kata hikmah dalam bahasa persi Teman yang durhaka, lebih berbisa daripada ular yang bahaya Demi Allah Yang Maha Tinggi, Nan Maha Suci Teman buruk, membawamu ke neraka jahim Teman bagus, mengajakmu ke sorga na’im 4. MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU A. Mengagungkan ilmu Penting diketahui, Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya. B. Mengagungkan Guru Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang guru. Ali ra berkata “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.” Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah. Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhak kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya. Barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemamfaatannya. C. Memulyakan Kitab Termasuk memulykan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki kearah kitab. Guru kita Burhanuddin pernah membawakan cerita dri seorang ulama yang mengtakan ada seoranag ahli fikih meletakan botol tinta di atas kitab. Ulama itu sraya berkata “Tidak bermanfaat ilmumu. Guru kita Qodli Fakhrul Islam yang termasyur dengan Qodli Khan pernah berkata “Kalau yang demikian itu tidak dimaksud meremehkan, maka tidak mengapalah. Namun lebih baiknya disingkiri saja.” Termasuk pula arti mengagungkan, hendak menulis kitab sebaik mungkin. Jangan kabur, jangan pula membuat catatan penyela/penjelas yang membuat tulisan kitab tidak jelas lagi, kecuali terpaksa harus dibuat begitu. Abu hanifah pernah mengetahui seorang yang tidak jelas tulisannya, lalu ujarnya “Jangan kau bikin tulisanmu tidak jelas, sedang kau kalau ada umur panjang akan hidup menyesal, dan jika mati akan dimaki.” Maksudnya, jika kau semakin tua dan matamua rabun, akan menyesali perbuatanmua sendiri itu. Sebaiknya pula jangan ada warna merah didalam kitab, karena hal itu perbuatan kaum filsafat bukan ulama salaf. Lebih dari itu ada diantara guru-guru kita yang tidak suka memakai kendaraan yang berwarna merah. D. Menghormati Teman Termasuk makna mengagungkan ilmu pula, yaitu menghormati teman belajar dan guru pengajar. Bercumbu rayu itu tidak dibenarkan, selain dalam menuntut ilmu. Malah sebaliknya di sini bercumbu rayu degnan guru dan teman sebangku pelajarannya. E. Sikap Selalu Hormat Dan Khidmah Hendaknya penuntut ilmu memperhatikan segala ilmu dan hikmah atas dasar selalu mengagungkan dan menghormati, sekalipun masalah yang itu-itu saja telah ia dengar seribu kali. Adalah dikatakan “Barang siapa yang telah mengagungkannya setelah lebih dari 1000 kali tidak sebagaimana pada pertama kalinya, ia tidak termasuk ahli ilmu.” F. Jangan Memilih Ilmu Sendiri Hendaklah sang murid jangan menentukan pilihan sendiri terhadap ilmu yang akan dipelajari. Hal itu dipersilahkan sang guru untuk menentukannya, karena dialah yang telah berkali-kali melakukan percobaan serta dia pula yang mengetahui ilmu yang sebaiknya diajarkan kepada seseorang dan sesuai dengan tabiatnya. G. Jangan Duduk Terlalu Dekat Dengan Guru Diwaktu belajar, hendaklah jangan duduk terlalu mendekati gurunya, selain bila terpaksa. Duduklah sejauh antar busur panah. Karena dengan begitu, akan terlihat mengagungkan sang guru. H. Menyingkiri Akhlak Tercela Pelajar selalu memnjaga dirinya daripada akhlak-akhlak yang tercela. Karena akhlak buruk itu ibarat anjing. Rasulullah saw bersabda “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau anjing”. Padahal orang belajar itu dengan perantara malaikat. Dan terutama yang disingkiri adalah sikap takabur dan sombong. Syai’ir dikatakan ilmu itu musuh bagi penyombong diri laksan air bah, musuh dataran tinggi Diraih keagungan dengan kesungguhan bukan semata dengan harta tumpukan bisakah agung didapat? Dengan harta tanpa semangat? Banyak sahaya, menduduki tingkat merdeka Banyak orang merdeka, menduduki tingkat sahaya 5. SUNGGUH-SUNGGUH, KONTINUITASDAN CITA-CITA LUHUR A. Kesungguhan Hati Selain itu semua, pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta kontinu terus-terusan. Seperti itu pula di tunjukkan firman Allah “Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” Surat 29, Al-Ankabut 69. Ada dikatakan pula “siapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu” “Brangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”. ada dikatakan lagi “Sejauhmana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu” Syi’ir gubahan Asy-Syafi’iy dikemukan kepadaku oleh Al Ustadz Sadiduddin Asy-Syairaziy Dengan kesungguhan, hal yng jauh jadi berada pintu terkuncipun jadi terbuka Titah Allah yang paling berhaq bilang sengsara, yang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa Disini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila sipandai hidup sengsara, sedang sibodoh cukup berharta Tapi yang hidup akalny, tidak di beri harta dan benda, keduanya pada berpisah, satu disini satu disana Pelajar pula harus sanggup tidak tidur bermalam-malam sebagaimanakata penyair Seukur kesulitan, ukuran keluhuran, siapa ingin luhur, jangan tidur semalaman Kau ingin mulya, tapi tidur di malam hari,dengan menyelam laut, permata kan didapati Keluhuran derajat, dengan hikmah yang tinggi, keluhuran seseorang, dengan berjaga di malam hari Oh tuhan, kubuang tidurku di malam hari, demi ridhaMu Ya Maulal Mawali Siapa tanpa mau sengsara inginkan keluhuran, mengulur umur yang takkan kedapatan Tolonglah saya agar mendapat ilmu, sampaikan saya dikemulyaan sisiMu Jadikanlah malam, unta tunggangann buat kau dapat, yang kau citakan Ada dikatakan “Barang siapa tidak tidur dimalam hari, hatinya bahagia di siang hari.” B. kontinuitas dan mengulang pelajaran Tidak boleh tidak, pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan mengulangi pelajaran yang telah lewat. Hal itu dilakukan pada awal waktu malam, akhir waktu malam. Sebab waktu diantara maghrib dan isya, demikian pula waktu sahur puasa adalah membawa berkah. C. Menyantuni Diri Jangan membuat dirinya sendiri bersusah payah, hingga jadi lemah dan tak mampu berbuat apa-apa. Ia harus selalu menyantuni dirinya sendiri. Kesantunan itu mendasari kesuksesan segala hal. Rasulullah saw. Bersabda “Ingatlah, bahwa islam itu agama yang kokoh. Santunilah dirimu dalam menunaikan tugas agama, jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu kepada Allah. Karena orang yang telah hilang kekuatannya itu, tiada bisa memutus bumi dan tiada pula kendaraan tunggangannya.” D. Cita-cita Luhur Pelajar harus luhur cita-citanya dalam berilmu. Manusia itu akan terbang dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua sayapnya. Abuth-Thoyyib berucap Seberapa kadar ahli cita, si cita-cita kan didapati Seberapa kadar orang mulya, sikemulyaan kan di temui Barang kecil tampaknya besar, dimata orang bercita kecil Barang besar dimata oarang bercita besar, tampaknya kecil E. Usah sekuat Tenaga Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati keutamaan ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana, seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Kami rela, bagian Allah untuk kami Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami Dalam waktu singkat, harta jadi musna Namun ilmu, abaditak akan sirna Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya walaupun ia sudah mati. Dan karena begitu, ia dikatakan selalu hidup abadi. Syaikhul Ajall Al-Hasan bin Ali Al-Marghibaniy membawakan syi’ir buat kami Kaum bodoh, telah mati sebelum mati Orang alim, tetap hidup walaupun mati Demikian pula Syaikhul Islam Burhanuddin Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya Belum dikubur, badanya telah jadi pusara Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati Bila bangkit kembali, tak kan bisa bangkit kembali Lain lagi Orang berilmu, hidup kekal setelah mati Ruas tubuhnya telah hancur lebur di timbun duli Orang bodoh, jalan di bumi, mati hukumnya Dikira hidup, nyatanya mati Dibawakan lagi untukku Fiqh itu ilmu termahal,engkaulah yang memungut Siapa belajar, tak kan habis hikmah di dapat Curahkan dirimu, mempelajari yang belum tahu Awal bahagia, akhirpun bahagia, itulah ilmu Bagi orang yang berakal, telah cukuplah merasa terpanggil Menuju kesuksesan berilmu oleh sebagaimana kelezatan-kelezatan ilmu, fiqh dan kebahagian yang timbul bila sedang faham terhadap suatu masalah. 6. PERMULAN BELAJAR UKURAN BELAJARDAN TATA TERTIBNYA A. Hari Mulai Belajar Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin memulai belajar tepat Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah hadist sebagai dasarnya, dan ujarnya Rasulullah saw bersabda ” tiada lain segala sesuatu yang di mulai pada hari rabu, kecuali akan menjadi sempurna.” Demikianlah, karena pada hari rabu itu Allah menciptakan cahaya, dan hari itu pula merupakan hari sial bagi orang kafir yang berarti bagi orang mukmin hari yang berkah. B. Panjang Pendeknya Pelajaran Mengenai ukuran seberapa panjang panjang yang baru dikaji, menurut keterangan Abu Hanifah adalah bahwa Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zanji berkata guru-guru kami berkata “sebaiknya bagi oarang yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu dihapalkan dengan faham, setelah diajarkannya dua kali berulang. Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga setelah banyak dan panjang pun masih bisa menghapal dengan paham pula setelah diulanga dua kali. Demikianlah lambat laun setapak demi setapak. Apabila pelajaran pertama yang dikaji itu terlalu panjang sehingga para pelajar memerlukan diulanganya 10 kali, maka untuk seterusnya sampai yang terakhirpun begitu. Karena hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan kecuali dengan susah payah.” Ada dikatakan “pelajaran baru satu huruf, pengulangannya seribu kali.” C. Tingkat Pelajaran Yang Di Dahulukan Sebaiknya dimulai dengan pelajaran-pelajaran yang dengan mudah telah bisa di fahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili berkata; “Menurut saya, yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang telah dikemukakan oleh para guru kita. Yaitu untuk murid yang baru, mereka pilihkan kitab-kitab yang ringkas/kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah di fahami dan di hapal, serta tidak membosankan lagi pula banyak terperaktekan. D. Membuat Catatan Sebaiknya sang murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami hafalannya, untuk kemudian sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan bermanfaat sekali. Jangan sampai menulis apa saja yang ia sendiri tidak tahu maksudnya, karena hal ini akan menumpulkan otak dan waktupun hilang dengan sia-sia belaka. E. Usaha Memahami Pelajaran Pelajar hendaknya mencurahkan kemampuannya dalam memahami pelajaran dari sang guru, atau boleh juga dengan cara diangan-angan sendiri, di fikir-fikir dan sering diulang-ulang sendiri. Karena bila pelajaran yang baru itu hanya sedikit dan sering diulang-ulang sendiri, akhirnyapun dapat dimengerti. Orang berkata “Hafal dua huruf lebih bagus daripada mendengarkan saja dua batas pelajaran. Dan memahami dua huruf lebih baik daripada menghapal dua batas pelajaran. Apabila seseorang telah pernah satu atau dua kali mengabaikan dan tidak mau berusaha, maka menjadi terbisakan, dan menjadi tidak bisa memahami kalimat yang tidak panjang sekalipun. F. Mudzakarah Munadharah Dan Mutharahah Seorang pelajar seharusnya melakukan Mudzakarah forum saling mengingatkan, munadharah forum saling mengadu pandangan dan mutharahah diskusi. Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan, kalem dan penghayatan serta menyingkiri hal-hal yang berakibat negatif. Apabila di dalam pembahasan itu dimaksudkan untuk sekedar mengobarkan perang lidah, maka tidak diperbolehkan menurut agama. Yang diperbolehkan adalah dalam rangka mencari kebenaran. Bicara berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak diperkenankan, selama musuh bicaranya tidak sekedar mencari kemenangan dan masih dalam mencari kebenaran. Bila kepada Muhammad bin Yahya diajukan suatu kemuskilan yang beliau sendiri belum menemukan pemecahannya, maka ia katakan “pertanyaan anda saya catat dahulu untuk kucari pemecahannya. Diatas orang berilmu, masih ada yang lebih banyak ilmunya.” Faedah mutharahah dan mudzakarah itu jelas lebih besar daripada sekedar mengulang pelajaran sendirian, sebab disamping berarti mengulang pelajaran, juga menambah pengetahuan yang baru. Ada dikatakan “Sesaat mutharahah dilakukan, lebih bagus mengulang pelajaran sebulan. “Sudah tentu harus dilakukan dengan orang yang insaf dan bertabiat jujur. Awas jangan mudzakarah dengan orang yang sekedar mencari menang dalam pembicaraan semata, lagi pula bertabiat tidak jujur. Sebab tabiat itu suka merampas, akhlak mudah menjalar sedang perkumpulan pengaruhnya besar. G. Menggali Ilmu Pelajar hendaknya membiasakan diri sepanjang waktu untuk mengangan-angan dan memikirkan. Karena itu, orang berkata “angan-anganlah, pasti akan kau temukan.” Tidak bisa tidak, agar omongan tepat itu harus terlebih dahulu di angan-angan sebelum berbicara. Ucapan adalah laksana anak panah, dimana tepat pada sasaran bila dibidikan terlebih dahulu dengan mengangan-angan. Dalam Ushul Fiqh ada dikatakan bahwa mengangan-angan adalah dasar yang amat penting. Maksudnya, hendaklah ucapan ahli fiqh yang teliti itu terlebih dahulu harus diangan-angan. Ada diaktakan “Modal akal ialah ucapan yang tidak sembarangan serta diangan-angan terlebih dahulu.” Seluruh waktunya dan dalam situasi bagaimanapun, pelajar hendaknya mengambil pelajaran dari siapapun. Rasulullah saw bersabda “Hikmah itu barang hilangnya orang mukmin dimana asal ia temui supaya diambil juga.” Ada dikatakan “Ambillah yang jernih tinggalkanlah yang keruh.” Dikala kepada Abu Yusuf ditanyakan “Dengan apakah tuan memperoleh ilmu? beliau menjawab “Saya tidak merasa malu belajar dan tidak kikir mengajar”. Ada ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra “dengan apakah tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab “Dengan lisan banyak bertanya dan hati selalu berpikir.” H. Pembiayaan Untuk Ilmu Orang yang kebetulan sehat badan dan pikirannya, tiada lagi alasan baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh sebab tidak ada lagi yang lebih melarat daripada Abu Yusuf, tapi toh tidak pernah melupakan pelajarannya. Apabila seseorang kebetulan kaya raya, alangkah bagusnya bila harta yang halal itu di miliki orang shaleh. Ada ditanyakan kepada seorang yang alim “dengan apa tuan mendapatkan ilmu?” lalu menjawabnya “Dengan ayahku yang kaya. Dengan kekayaan itu, beliau berbakti kepada ahli ilmu dan ahli keutamaan”. Perbuatan seperti ini, berarti mensyukuri nikmat akal dan ilmu, yang hal itu menyebabkan bertambahnya ilmu. I. Bersyukur Demikianlah, pelajar harus menyatakan syukurnya dengan lisan, hati, badan dan juga hartanya. Mengetahui/menyadari bahwa kefahaman, ilmu dan taufik itu semuanya datang dari hadirat Allah Swt. Memohon hidayahnya dengan berdo’a dan meronta, karena hanya Dialah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang memohon. J. Pengorbanan Harta Demi Ilmu Dengan harta yang dimiliki, hendaklah suka membeli kitab dan mengaji menulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan bertafaqquh. K. Pelaksanaan Pelajaran Keterampilan Nabi saw bersabda “Karena khawatir melarat, semua manusia telah jadi melarat’. Pelajar-pelajar dimasa dulu sebelum mempelajari ilmu agama, lebih dahulu belajar bekerja, agar dengan begitu tidak tama’ mengharap harta orang lain. Dalam kata hikmah disebutkan “Barangsiapa mencukupi diri dengan harta orang lain, berarti ia melarat.” Jika orang alim bersifat tama’, hilanglah nilai ilmunya dan ucapannya tidak bisa dibenarkan lagi. Karena itu, Rasulullah saw pembawa syareat berlindung diri dari sabdanya “Aku berlindung diri kepada Allah dari sifat tama’ yang membawa kepada tabiat jahat.” L. Lillahi Ta’ala Tumpuan harapan sang pelajar hanyalah kepada Allah, takutpun hanya kepadaNya. Sikap tersebut bisa di ukur dengan melampaui batas-batas agama atau tidak. M. Mengukur Kemampuan Diri Sendiri Hendaknya yang lebih efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran yaitu Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali hari kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali dan hari sebelumnya lagi 1kali. N. Metoda Menghafal Suatu cara yang efisien dan efektif untuk menghafalkan pelajaran yaitu Pelajaran hari kemarin diulang 5 kali, hari lusa 4 kali, hari kemarin lusa 3 kali, hari sebelum itu 2 kali, dan hari sebelumnya lagi satu kali. Hendaknya dalam mengulangi pelajarannya itu jangan pelan-pelan. Belajar lebih bagus bersuara kuat dengan penuh semangat. Namun jangan terlalu keras, dan jangan pula hingga menyusahkan dirinya yang menyebabkan tidak bisa belajar lagi. Segala sesuatu yang terbaik adalah yang cukupan. O. Panik Dan Bingung Seyogyanya pelajar tidak panik dan kebingungan, sebab itu semua adalah afat. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin berkata “Sesungguhnya saya dapat melebihi teman-temanku adalah karana selama belajar tidak pernah merasa panik, kendor dan kacau”. 7. Sebuah Methode Belajar. Guru kami Syaikh Qadli Imam Fakhrul Islam Qadlikhan berkata Bagi pelajar Fiqh, agar selalu hafal di luar kepala sebuah kitab fiqh. Dengan begitu, akan lebih memudahkan dalam mnghafalkan ilmu fiqh yang baru yang di dengarkan. 8. MASA BELAJAR Ada dikatakan “Masa belajar itu sejak manusia berada di buaian hingga masuk keliang kubur. “Hasan bin Ziyad waktu sudah berumur 80 tahun baru mulai belajar fiqh, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur di ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti. Masa yang paling cemerlang untuk belajar adalah permulaan masa-masa jadi pemuda, waktu sahur berpuasa dan waktu di antara magrib dan isya. 9. KASIH SAYANG DAN NASEHAT A. Kasih Sayang Orang alim hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi nasehat serta jangan berbuat dengki. Dengki itu tidak akan bermanfaat, justru membahayakan diri sendiri. Sebuah hikayat diketengahkan. Shadrul Ajall Burhanul Aimmah membagi waktu untuk mengajar kedua orang putra beliau, yaitu Hasamuddin dan Tajuddin pada waktu agak siang begini, minat kami telah berkurang lagi pula merasa bosan”, sang ayahpun menyahut’ “sesungguhnya orang-orang perantauan dan putra-putra pembesar itu pada berdatangan kemari dari berbagai penjuru bumi. Karena itu mereka harus kuajar terlebih dahulu.” Nah, atas berkah sang ayah dan kasih sayangnya itulah, dua orang putra beliau menjadi alim fiqh yang melebihi ahli-ahli lain yang hidup pada masa itu. B. Menghadapi Kedengkian Selain tersebut di atas, orang alim hendaknya tidak usah turut melibatkan diri dalam arena pertikaian dan peperangan pendapat dengan orang lain, karena hal itu hanya membuat waktu menjadi habis sia-sia. Ada dikatakan “Pengamal kebajikan akan dibalas karena kebajikannya, sedang pelaku kejelekan itu telah cukup akan memberatkan siksa dirinya.” Ada dikatakan “Barangsiapa yang ingin memutuskan batang hidung lawannya, maka bacalah syi’ir di bawah ini berulang kali” dibawakan syi’ir itu buatku Jikalau engkau, ingin musuhmu jadi terhina Terbunuh susah, terbakar derita Maka caranya capailah mulya, tambahlah ilmu Sebab orang dengki, tambah susahnya Bila yang didengki, tambah ilmunya Dibawakan untukku, syi’ir Syakhul Amid Abul Farhal-Basthiy Orang alim tak akan selamat dari si bodoh, Bila si bodoh melaliminya dan membuat kisruh damailah saja dengn si bodoh jangan kau serang, bila sibodoh mau cerewet, tetaplah tenang. 10. MENGAMBIL PELAJARAN A. Saat-saat Mengambil pelajaran Pelajar hendaknya menggunakan setiap kesempatan waktunya untuk belajar, terus-menerus sampai memperoleh keutamaan. Caranya dilakukan bisa dengan selalu menyediakan botol wadah tinta untuk mencatat segala hal-hal ilmiah yang didapatinya. Ada dikatakan Hapalan akan lari, tapi tulisan tetap berdiri” dikatakan lagi “Yang disebut ilmu yaitu segala apa yang didapat dari ucapan ahli ilmu, karena mereka telah menghafal hal-hal yang bagus dari hasil pendengarannya dan mengucapkan yang bagus itu dari hafalan tersebut” saya mendengar ucapan Syaikhul Ustadz Zainul Islam yang terkenal dengan gelar Adibul Mukhtar Hilal bin Yasar berkata “Kulihat Nabi saw. Mengemukakan sepatah ilmu dan hikmah kepada sahabat beliau, lalu usulku “Ya Rasulullah, ulangilah untukku apa yang telah tuan sampaikan kepada mereka” beliau bertanya kepadaku “apakah engkau bawa botol dawat?” jawabku “tidak” beliaupun lagi bersabda “Oh Hilal, janganlah engkau berpisah dari botol dawat, karena sampai hari kiamat kebagusan itu selalu disana dan pada yang membawanya”. B. Mengambil Pelajaran Dari Para Sesepuh Hendaknya pelajar bisa mengambil pelajaran dari para sesepuh dan mencecap ilmu mereka. Tidak setiap yang telah berlalu bisa didapatkan kembali. Ali ra berkata Jikalau kamu menghadapi suatu perkara, maka tekunilah ia; berpaling dari ilmu Allah itu cukup akan membuat hina dan menyesal; mohonlah perlindungan Allah di waktu siang dan malam agar tidak melakukan tersebut diatas. C. Prihatin Dan Rendah Di Mata Manusia Pelajar harus sanggup menanggung derita hidup yang terpandang rendah di mata manusia, selama menuntut ilmu, karena seorang murid itu harus bercumbu rayu dengan guru, temannya dan juga orang-orang lain untuk mengambil pelajaran dari mereka. Ada dikatakan ilmu itu mulya tak bercampur hina, dan tak didapati hanya lewat kehinaan tak bercampur kemulyaan” maksudnya didapat dengan penuh derita yang terpandang rendah dimata manusia. 11. WARO’ PADA MASA BELAJAR A. Waro’ Dalam masalah waro’, sebagian ulama meriwayatkan hadist dari Rasulullah saw. “Barang siapa tidak berbuat waro’ waktu belajarnya, maka Allah memberinya ujian dengan salah satu tiga perkara dimatikan masih berusia muda, ditempatkan pada perkampungan orang-orang bodoh atau dijadikan pengabdi sang pejabat”. Jikalau mau membuat waro’ maka ilmunya lebih bermanfaat, belajarpun mudah dengan banyak-banyak berfaedah. Termasuk berbuat waro’ adalah memelihara dirinya jangan sampai perutnya kenyang amat, terlalu banyak tidur dan banyak membicarakan hal yang tak bermanfaat. Ada seorang zuhud ahli fiqh berwasiat kepada seorang murid Jagalah dirimu dari ghibah dan bergaul dan bergaul dengan orang yang banyak bicaranya. Lalu katanya lagi orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan membuang sia-sia waktumu.” Termasuk waro lagi hendaknya menyingkiri kaum perusak, maksiat dan penganggur, sebab perkumpulan itu membawa pengaruh. Menghadap kiblat waktu belajar, bercerminkan diri dengan sunah Nabi, mohon dido’akan oleh para ulama ahli kebajikan dan jngan sampai terkena do’a tidak baiknya orang teraniaya kesemuanya itu termasuk waro’. B. Menghadap Qiblat Suatu hikayat. Ada dua orang pergi merantau untuk mencari ilmu. Merekapun belajar bersama-sama. Setelah berjalan bertahun-tahun, mereka kembali pulang. Ternyata satu alim, sedang satunya lagi tidak. Kemudian pernyataan ini menarik perhatian para ulama’ ahli fiqh daerah tersebut, lalu mereka bertanya kepada dua orang tadi, mengenai perbuatannya waktu sedang mengulang sendiri pelajarannya dan duduknya di waktu belajar. Atas hasil pertanyaan itu, mereka mengetahui bahwa orang alim tadi setiap mengulang pelajarannya selalu menghadap qiblat dan kota di mana ia mendapat ilmu. Tapi yang tidak alim, justru membelakanginya. Dengan demikian ahli fiqh dan para ulama sepakat bahwa orang yang menjadi alim tadi adalah atas berkahnya menghadap qiblat sebab itu dihukumi sunah, kecuali bila terpaksa. Dan berkah orang-orang muslimin disana, sebab kota tersebut tidak pernah kesepian dari orang-orang ibadah dan berbuat kebajikan. Yang jelas, untuk setiap malam pasti ada walaupun satu orang ahli ibadah yang mendo’akan kepadanya. C. Perbuatan Adab Dan Sunnah Pelajar hendaknya tidak mengabaikan perbuatan-perbuatan yang berstatus adab kesopanan, dan amal-amal kesunahan. Sebab siapa yang mengabaikan adab menjadi tertutup dari yang sunah, yang mengabaikan sunah tertutup dari fardlu, dan berarti tertutup dari kebahagiaan akhirat. Sebagian ulama’ berkata “Seperti hadist dari Rasulullah saw.” Hendaknya pula banyak-banyak melakukan shalat dengan khusu’ sebab dengan begitu akan lebih memudahkan mencapai kesuksesan belajar. Pelajar hendaknya selalu membawa buku untuk dipelajari. Ada dikatakan “Barangsiapa tak ada buku di sakunya, maka tak ada hikmah di hatinya.” Lalu buku itu hendaknya berwarna putih. Juga hendaknya membawa botol dawat, agar bisa mencatat segala pengetahuan yang di dengar. Sebagaimana di atas telah kami kemukakan Hadist riwayat Hilal bin Yasar. PENUTUP Dari bab pembahasan di atas, dapat kita lihat bahwa dari segi metode belajar yang dimuat Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi dua kategori. Pertama, metode bersifat etik. Kedua, metode yang bersifat strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar; sedangkan metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar. Apabila dianalisa maka akan kelihatan dengan jelas Zarnuji mengutakan metode yang bersifat etik, karena dalam pembahasannya beliau cenderung mengutamakan masalah-masalah yang bernuansa pesan moral.

rangkuman kitab ta lim muta alim